Posted in Bahan Refleksi Diri

Penjual Parfum vs Tukang Besi

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sudah seminggu berlalu, alhamdulillah dengan merutinkan diri menulis blog, saya mulai terasa ada yang hilang jika tidak menulis di weekend. Hobi yang insyaAllah sekaligus terapi untuk penyegaran jiwa.

Nah kali ini, baca judulnya, sekilas semacam menyebut jenis pekerjaan ya hehe. Sebenarnya, kesempatan menulis kali ini, saya akan bahas tentang pertemanan. Karena sepi ‘kan ya, hidup tanpa teman, tapi kita juga ga mungkin berteman dengan semua orang, betul? Nah, ternyata anjuran memilih teman sudah pernah Rasulullah beritakan, begini bunyi hadisnya:

Jadi judul diatas adalah merupakan sebuah perumpamaan, akan bagaimana dampak memilih teman untuk diri kita. Teman itu bisa dibagi kedalam 4 jenis lho, tau ga?

Pertama, teman yang laksana makanan, tidak bisa ditinggalkan walau sehari pun, kedua teman laksana obat, yang dibutuhkan ketika sakit, ketiga, teman yang laksana penyakit, menimbulkan penderitaan, dan terakhir, teman laksana racun, membawa kebinasaan. Sila dipilih mau jadi teman seperti apa kita untuk teman-teman kita.

Lalu apa hubungannya dengan perumpamaan diatas?

Teman “penjual parfum”-lah yang baiknya kita miliki. Dengannya, kita akan mendapat ketenangan, mengajarkan kepadamu hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agamamu, memeberimu nasihat, mengingatkan dari hal-hal yang membuatmu celaka, senantiasa memotivasi dirimu untuk mentaati Allah, berbakti kepada kedua orangtua, menyambung silaturahmi, dan bersabar dengan kekurangan dirimu. Ia pun senantiasa mengajak untuk berakhlak mulia baik dalam perkataan, perbuatan, maupun bersikap.

Syaikh As Sa’di rahimahulah juga menjelaskan bahwa berteman dengan teman “Tukang Besi” yang digunakan sebagai analogi untuk teman yang buruk, itu akan memberikan dampak yang sebaliknya. Teman itu dapat mendatangkan bahaya bagi orang yang berteman dengannya, dapat mendatangkan keburukan dari segala aspek bagi orang yang bergaul bersamanya.

Oleh karena itu, sungguh merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi seorang hamba yang beriman yaitu Allah memberinya taufik berupa teman yang baik. Sebaliknya, hukuman bagi seorang hamba adalah Allah mengujinya dengan teman yang buruk. (Bahjatu Qulubil Abrar, 185)

Alhamdulillah, ikhtiar kita bergabung di satu komunitas untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas iman kita melalui bengkel diri ini, insyaAllah kita bukan termasuk orang yang kelak menyesal diakhirat ya.

Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman dekatnya dalam tabiat dan perilakunya. Keduanya saling terikat satu sama lain, baik dalam kebaikan maupun dalam kondisi sebaliknya.

Untuk bahasan pertemanan ini, saya juga telah menjelaskan lebih detail mengenai sesi pertemanan dalam 3 bagian di youtube channel : Syahdian Sofwan . Ini bagian pertama, nanti dicari yang thumbnailnya sama aja ya buat kedua dan ketiga #banyakmau hehe

Sekian pembahasan mengenai 4 jenis teman dan dampak yang ditimbulkan oleh teman yang baik juga teman yang buruk. Semoga kita bisa menjadi teman terbaik, dan sebaik2 teman adalah yang senantiasa mendoakan teman lainnya tanpa diminta.

Terima kasih sudah membaca.

Salam hangat, Syahdian

Wassalam.

Sumber:

https://muslim.or.id/8879-pengaruh-teman-bergaul.html

IG: @aulafamily

Posted in Bahan Refleksi Diri

Siapa Bilang Wanita tidak Boleh Berdiplomasi? – A Story about Ummu Ri’lah Al-Qusyairiyah ra.

Bismillah, kali pertama saya mengikuti blog tematik diakhir bulan mengenai satu sahabiyah di zaman rasulullah SAW. Saya bingung pilih yang mana, soalnya masyaAllah, semua cerita-cerita sahabiyah zaman Rasulullah itu sangat mengagumkan, ada yang berani, ada yang cerdas, ada yang dermawan, ada yang rajin bekerja, istri-istri shalihah dan wanita terpandang yang bukan hanya membumi tetapi juga melangit kiprahnya.

Saya banyak merasa tertampar ketika membaca satu persatu shirah-shirah mereka, tidak ada satupun yang tidak respect pada Rasulullah SAW sebagai rasul pembawa risalah dari Allah. Kecintaan mereka pada agamanya, melebihi kecintaan mereka pada dunia. Semoga kita semua, khususnya saya, bisa meneladani kisah mereka, dan bisa berada ditempat terbaik kelak bersama mereka. Aamiin Allohumma Aamiin.

Dari semua cerita, satu yang membuat saya tertarik, adalah cerita tentang Ummu Ri’lah Al Qusyairiyah ra. Siapa beliau dan apa kiprahnya? Begini, kisahnya …

Nama Ummu Ri’lah pertama kali dikenal dalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Al-Mustaghfiri dan Abu Musa. Ummu Ri’lah dikenal sebagai sahabat yang memiliki loyalitas yang tinggi terhadap keluarga Rasulullah SAW. Tidak hanya berhenti disitu, Ummu Ri’lah juga pandai berdiplomasi dan senantiasa membela hak-hak kaum Muslimah pada saat itu.

Isi hadis tersebut begini:

Suatu saat Ummu Ri’lah datang dan menghadap kepada Rasulullah SAW sambil berkata, 

“ Assalamu’alaika Ya Rosulullah Warahmatullahi Wabarakutu, kami para Muslimah selalu tertutup di balik tirai rumah menemani tidur suami, mendidik anak-anak, sementara kami tidak memiliki tempat bersama tentara. Maka ajarilah kami sesuatu yang dengannya kami bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT

Lantas Rasulullah SAW menjawab: “Berdzikirlah kalian sepanjang siang dan malam, tahanlah pandangan dan kecilkan suara”.

Lantas Ummu Ri’lah bertanya lagi kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, ana seorang penghias, selalu menghiasi para istri untuk suami mereka. Apakah itu perbuatan yang dosa sehingga ana harus menghentikannya?

Lantas Rasulullah SAW menjawabnya, “Wahai Ummu Ri’lah, buatlah mereka bersolek dan hiasilah para Muslimah juga jika belum mendapat jodoh”.

***

Dari dialog diatas, Ummu Ri’lah seolah menunjukkan keberanian untuk bertanya langsung pada baginda Rasulullah SAW ketika ada suatu keresahan dan demi membela agama Allah. Ummu Ri’lah juga mengajarkan bagaimana baiknya menjadi seorang muslimah yang produktif. Saya belajar salah satu tema ini bareng Ummu Balqis juga di Bengkel Diri, dan ini termasuk tema yang saya paling suka. Karena saya ga bisa diem aja sih pada dasarnya. Okay, back to the topic please.

Terlihat ada kekecewaan seorang Ummu Ri’lah, dimana beliau menyayangkan mengapa muslimah dikala perang tidak diikutsertakan, padahal pahala berperang dan berjihad serta syahid di medan perang sangat besar. Kala itu, belum ada muslimah yang berani menyatakan pendapat langsung kepada Rasulullah SAW. Beliau resah akan sesuatu, dan beliau menyampaikannya ke orang yang tepat dan bisa memberikan solusi yang tepat pula. Cara beliau bertanya pun sangat sopan, tak lancang, tetapi lugas. Tersirat juga ada rasa ingin berlomba-lomba dalam kebaikan dalam hatinya, ia ingin mendapatkan pahala berjihad seperti halnya para kaum muslim zaman itu.

Mengapa kisah sahabiyah Ummu Ri’lah adalah yang menarik bagi saya, karena saya merasa ada dominasi karakter yang sama antara saya dan Ummu Ri’lah yakni, dalam bersikap kritis, dan banyak bertanya. Saya bukan bermaksud menyombongkan diri, kerap kali sikap kritis saya diprotes oleh orang-orang terdekat saya, dan ini jadi masalah. Saya paling tidak bisa diam, ketika saya tidak mengerti akan sesuatu, saya cari tau, saya tanya belum bisa tidur nyenyak jika saya belum menemukan ketenangan dari keresahan saya dan alhamdulillah, saya masih harus banyak belajar akan bagaimana cara menyampaikan kekritisan saya dengan cara yang baik dan terhormat, seperti halnya Ummu Ri’lah.

Untuk menutup kisah sahabihah Ummu Ri’lah Al-Qusyairiyah, saya mau menutup dengan mengagungkan nilai-nilai islam dalam menaikkan derajat wanita. Ada satu hadis yang menegaskan bahwa jihad perempuan layaknya berjihad di medan perang adalah melalui zikir. Artinya, secara syariat pun, agama Islam mengakomodir peluang jihad bagi kaum perempuan namun di sisi lain juga menjaga dan melindungi perempuan dengan cara-cara yang baik tanpa menyinggung atau melukai kodrat asli seorang wanita. Ajaran islam tidka pernah melarang kaum muslimah berekspresi, dengan syarat, tau batasannya.

Ummu Ri’lah mengajarkan kita untuk tidak cepat puas, untuk selalu produktif dan senantiasa meng-upgrade lahan dakwahnya tidak hanya dirumah, melainkan juga berperan dalam membela agama Allah dengan cara yang sesuai syariat.

Memang benar, bahwa generasi masa Rasulullah SAW merupakan generasi terbaik yang harus dijadikan acuan untuk mendidik dan mencetak generasi masa kini. Rasulullah SAW merupakan sebaik-baik manusia, yang di utus oleh Allah SWT, untuk membimbing dan sebagai teladan bagi umatnya. Salah satu keluhuran akhlak beliau yaitu menghargai setiap profesi apa pun selama itu halal, ingat postingan saya terakhir tentang karyawan teladan? klik disini kalo mau baca (lagi).

Perihal jawaban Rasulullah tentang merias wanita. Merias para Muslimah untuk suaminya merupakan sebuah pekerjaan yang sepertinya sepele, dan tidak dibutuhkan keahlian khusus, namun di mata Rasulullah SAW nilainya seperti berjihad di jalan Allah SWT. Begitu juga dengan berdzikir, menahan pandangan dan mengecilkan suara yang memiliki nilai sama dengan berjihad.

Banyak percekcokan keluarga ditengarai karena bosannya suami melihat penampilan istrinya yang berdaster, mandinya ntar abis masak aja, bukan sebelum suami pulang, dan yang suka cemberut depan suami kalo ada keinginan yang harusnya ngomong, malah berharap suami bisa jadi pembaca pikiran kita. #yakali #gubraaak

Ciri istri shalihah dalam hadis adalah: “Yang menyenangkan suami ketika dilihat, dan menaati suami ketika diperintah. (HR. Ahmad 9837, Nasai 3244 dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).”

Jadi, para (calon) emak-emak sekalian, kita harus pandai menyenangkan suami ya. (baca: nabung beli make-up, jangan cuma bedak tabur bayi, beli juga lipen, beli celak, beli parfum yang wangi, beli baju tidur yang kece badai, nonton beauty vlogger, mendaki gunung lewati lembah #lohjadinyanyi #okeabaikan

Jika rumah tangga suatu keluarga tentram, maka masyarakat sebagai komunitas yang lebih besar tentu akan tentram. Oleh karena itu, keutamaannya jelas sama dengan jihad di jalan Allah SWT, karena sama-sama menjaga keberlangsungan hidup dalam sebuah komunitas.

Terima kasih sudah membaca, maaf jika ada yang keterlaluan, jadikan itu sedikit hiburan ya. Semoga kita bisa sama-sama belajar menjadi muslimah yang lebih baik lagi. Aamiin.

Salam kasih sayang ukhuwah,

Syahdian Sofwan

Sumber:

  1. https://www.alquranmuslimah.com/blog/ummu-rilah-al-qusyairiyah-sahabat-nabi-cerdas-dalam-diplomasi-hak-hak-muslimah

2. https://www.shiraaz.co/perjuangan-aktivis-muslimah-ummu-rilah-di-era-nabi-muhammad/

3. https://inilah.com/mozaik/2442504/ciri-wanita-saleh-menyenangkan-suami-dan-patuh

Posted in Bahan Refleksi Diri

Karyawan Teladan Dalam Pandangan Islam

Bismilllah, alhamdulillah, saya bersyukur banget memiliki komunitas nge-blog mingguan yang membuat weekend saya jadi tidak membosankan. Alhamdulillah atas jalinan pertemanan online ini ya Rabb. Semoga semua teman seperjuangan selalu Allah beri kesehatan dan keberkahan. Aamiin.

Lanjut ya…

Tulisan sebelumnya, adalah mengenai All or Nothing nya menjadi Karyawan Teladan. Emang harus ya? Kan capek, tau? Terus banyak juga yang kepaksa kerjain pekerjaan itu padahal ia tidak bahagia. Yuups berbagai pertanyaan pasti muncul terkait topik ini. Tapi hayuk kita coba turunkan tensi sebentar, ngopi juga boleh, hehe. Bagaimana sih agama Islam menganjurkan kita dalam menjadi karyawan teladan.

Boleh simak dulu video saya biar tau kisi2 yang bisa jadi lebih banyak dari tulisan ini.

Segmen Terakhir Karyawan Teladan 3/3 YT Channel : Syahdian Sofwan

Di intro dari video di atas, saya mencoba memberi contoh betapa para nabi-nabi kita adalah pekerja yang professional. Dari sana saja sudah terlihat bahwa islam sangat menganjurkan untuk menjadi professional dalam hal yang kita lakukan. Terutama dalam hal pekerjaan, karena bagi orang dewasa, akan ada sebagian banyak waktu hidup kita yang kita habiskan untuk menjalani pekerjaan itu. Maka be professional. Caranya? Tentukan bidang apa yang menarik bagi kita, jalani. Jika belum bisa memenuhi personal mission kita, maka cari pekerjaan yang lebih sesuai. Tapi ingat, terlalu sering berganti-ganti pekerjaan, malah akan menjadi bumerang. Pada akhirnya, kita harus menetap pada satu pekerjaan, menjalani peran dengan sebaik mungkin.

Dalam islam ada 4 prinsip etos kerja bedasarkan riwayat Al-Baihaqi dalam kitab Syub’ul Iman:

  1. Bekerja secara halal (thalaba ad-dunya halalan).
  2. Bekerja demi menjaga diri supaya tidak menjadi beban hidup orang lain (ta’affufan an al-mas’alah).
  3. Bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ala iyalihi).
  4. Bekerja untuk meringankan beban hidup tetangga (ta’aththufan ala jarihi).
    (sumber https://republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/03/21/mjzgo9-empat-prinsip-etos-kerja-islami)

Nah first thing first, saya garis bawahi pekerjaan yang dijalani calon karyawan teladan adalah pekerjaan yang halal secara syariat agama. Alih-alih menjadi karyawan teladan, malah menjadi ahli neraka, na’udzubillah.

Niatkan bekerja karena Allah. Tetapi bagi seorang istri, pastikan suami kita ridlo atas pekerjaan kita. Dan pastikan juga kita tidak sampai mendzolimi hak suami kita. Berat memang, insyaAllah pasti bisa. Lalu, niatkan bekerja karena tidak ingin menjadi beban bagi orang lain, baik orang tua, saudara ataupun teman. Malu jadi benalu. Selanjutnya, niatkan bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan pada akhirnya, sisihkan sebagian rezeki kita kepada yang berhak. Semua ini semata kita lakukan agar apa yang kita lakukan berkah dunia akhirat, Luruskan niat, lalu ikhlaslah dalam bekerja, dan jangan lupa berpasrah atas ketentuan Allah setelah berikhtiar semampu kita, Terakhir, bekerjalah agar bisa memperluas ladang pahala terhadap tetangga sekitar kita yang kurang mampu. Pernah dengar, bahkan, jika masakan kita saja tercium oleh tetangga kita, baiknya kita membagi makanan itu untuk mereka? MasyaAllah ya anjuran bersedah dalam islam ini ada nilai ukhuwah didalamnya, yang insyaAlah akan memperkuat silaturahmi, dan memperpanjang umur.

Bekerja juga bisa jadi sarana jihad kita pada keluarga. Keringat suami kita, adalah jalan ia masuk syurga. Keringat ayah kita adalah bukti kerja kerasnya menghidupi keluarga. Para lelaki berjuang dengan letih bekerja, dan kita sebagai muslimah, berjuang dengan menghormati pekerjaan suami.

Tidak ada pekerjaan yang lebih rendah dari pekerjaan yang lain. Boleh jadi, pekerjaan yang lebih rendah dimata kita, adalah pekerjaan mulia dimata Allah. Dan tidak ada juga perbedaan kasta si pemberi kerja lebih tinggi derajatnya ketimbang si penerima kerja. Pemberi kerja dan penerima kerja adalah satu team, ibarat motor yang berjalan dengan dua roda, jika satu tak ada maka motor tak bisa berfungsi. Maka dari itu, setelah si karyawan bekerja dengan sebaik yang ia bisa, maka haruslah diiringi dengan si pemberi kerja yang memberi haknya karyawan tersebut. Tidak boleh dikurangi dan tidak boleh dipekerjakan diluar limitnya.

Nah, jika semua pihak memenuhi kewajibannya, maka barulah kita boleh menuntut hak kita, begitulah saya diajarkan ketika SD oleh guru saya sehingga, itu tertanam dalam diri saya, semoga teman-teman juga begitu.

Semoga kita sama2 belajar untuk menjadi karyawan teladan yang diridhoi Allah.

Salam

Syahdian Sofwan

Posted in About SiRi (Sidik Jari

Menjadi (Karyawan) yang Terbaik, All or Nothing Principle

Assalamu’alaykum semua

Menjadi sesuatu atau tidak sama sekali adalah hak setiap orang, tetapi jika kita harus memilih, tentu menjadi sesuatu adalah jauh lebih baik ketimbang tidak menjadi apa-apa. Ini juga berlaku dalam hal pekerjaan. Menjadi karyawan dibawah pimpinan orang lain ataupun membuka usaha sendiri, adalah prinsipnya sama, kita bekerja, mencoba mencari penghidupan yang layak agar kita tidak bergantung dan menjadi benalu bagi orang lain.

Bagi beberapa orang, wajib hukumnya bekerja, terutama bagi para suami. Demi menafkahi anak dan istri, ia harus berjibaku dengan sering menyibukkan diri. Agar keluarga bisa menyuap nasi tiap hari. Tapi, selain letih dan gaji, adakah nilai lebih dari suatu pekerjaan yang dijalani? Harus ada, agar pekerjaan ini menjadi layak untuk dinikmati. Bagaimana caranya menyikapi situasi pekerjaan agar kita bisa menjadi yang terbaik? Boleh bantu simak video ini, boleh dibantu juga channel youtube saya agar semakin bertumbuh. Jazakillah.

Jika video diatas sudah disimak, kita insyaAllah akan belajar meneladani karakter dari seorang karyawan teladan. Menjadi suri teladan adalah baik, karena segala contoh sikap kita layak dan pantas untuk dijadikan inspirasi. Dengan menjadi karyawan yang baik, kita akan membuka banyak pintu kebaikan. Pekerjaannya, akan menjadi cerminan sikap kepemimpinannya. Apalagi jika menjadi karyawan teladan dimata manusia dilengkapi oleh menjadi makhluk terbaik dimata Allah. Kita akan sama-sama belajar.

Sebenarnya relevansinya apa terhadap seorang istri yang harus merelakan suaminya bekerja, seharian diluar, dengan merelakan suami menjadi karyawan teladan? Oh, banyak. Dengan menjadi istri yang ridho dengan pekerjaan suami, itu akan membangun nuansa positif yang penting untuk mensupport mental suami. Selain itu, karena menjadi karyawan teladan berkorelasi dengan menjadi pemimpin yang baik, maka insyaAllah, trait atau jejak yang baik akan ia cerminkan juga dalam kehidupan berumah tangga. Maka coba buibu, bantu share video ini buat bapak ya, sekalian promosi #eh

Bagi yang belum kenal, saya sendiri adalah ibu rumah tangga yang juga menjalani karir yang insyaAllah saya jalanin dengan mengantongi izin suami. Kami berdua bergerak dalam bidang pendidikan dan alhamdulillah saya juga adalah seorang konsultan sidik jari yang bisa membantu menemukan karakter dasar anak, gaya belajar, dan bukan hanya dunia anak saja, tetapi juga dunia remaja yang rentan akan ancaman mental dan kebingungan mencari jurusan. Selain itu, bisa juga membantu para orang dewasa untuk menemukan pekerjaan yang cocok dengan karakter dasarnya, agar semakin bisa menikmati peran hidup yang dijalani.

Saya mencoba sekian banyak cara agar sibuk sesibuk-sibuknya yang bermanfaat agar saya bisa sedikit berbagi dan tak melulu berlarut memikirkan si kecil yang belum Allah perkenankan hadir ditengah-tengah kami. Minta doanya juga ya. Maaf banyak mintanya ya hehe.

Baiklah, seri pertama video tentang karyawan teladan ini resmi di-release dan akan ada sampai seri ketiga, untuk melengkapi sudut pandang islam dalam hal ini. Tunggu saja ya. InsyaAllah jika Allah memberi kesempatan, saya juga akan berparalel selain mengisi youtube channel saya seminggu sekali, juga menulis blog yang sempat saya tinggalkan kemarin2. Semoga istiqomah. Aamiin.

Kita tidak saling mengenal, tetapi kita telah diberi kesempatan untuk saling meng-aamiin-kan doa, karena kita tidak tau, malaikat pun sedang mendoakan siapa pun yang meng-aamiin-kan doa saudaranya tanpa diketahui.

“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

(Shohih) Lihat Ash Shohihah (1399): [Muslim: 48-Kitab Adz Dzikr wad Du’aa’, hal. 88]
https://rumaysho.com/485-doakanlah-saudaramu-di-saat-dia-tidak-mengetahuinya-2.html

Terima kasih sudah membaca.

Salam hormat

Syahdian Sofwan

Posted in Bahan Refleksi Diri

Wasiat Rasulullah: Taatlah pada Pemimpinmu.

Bismillah…

Tahun 2020 adalah tahun yang ISTIMEWA bagi semua orang di seluruh dunia. Membuat keadaan tak jelas adanya, sepintar apapun manusia, tak jarang tetap tak berdaya. Makhluk yang tak mudah dilihat mata, bisa sebegitu mengguncang dunia. Maka, tidakkah, kita berpikir ini saatnya, kita kembali pada fitrah-Nya?

Apa fitrah manusia? Lemah. Ia kuat karena kehendak-Nya. Apalagi fitrah manusia? Mudah berputus asa? Ia bisa tegar karena kesabaran dan kekuatan hati. Kekuatan hati yang terikat pada suatu sebab yang semoga sebab itu berujung takwa pada-Nya.

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan kepada para pemimpin di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan RasulNya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa[4]: 59)

Baru saja selesai saya mengikuti kajian online tematik mengenai wasiat perpisahan Rasulullah. Diantara wasiat-wasiatnya, salah satu wasiatnya Rasulullah menyuruh kita untuk taat pada pemimpin, sekalipun pemimpin itu dulunya adalah seorang budak. Karena pada hakikatnya, mengikuti anjuran pemerintah adalah sejalan dengan makna takwa, meski berbeda ranahnya. Mengapa saya mengaitkan ini dengan kondisi sekarang? Coba renungkan sejenak, apa kita termasuk yang menyayangkan sikap pemerintah dalam penanggulangan Covid-19? Lalu, kita sudah berbuat apa untuk negara? Saya tidak bilang, bahwa tidak boleh menyayangkan sikap pemerintah, tetapi, saudaraku, Rasulullah sendiri yang menyuruh kita untuk percaya dan ikuti perintah pemerintah, selama itu tidak melenceng dari agama. Sampai hatikah kita melawan Rasulullah Muhammad SAW?

Bayangkan, mengurus rumah tangga saja kadang subhanallah hectic-nya, ini mengurus ratusan juta kepala. Maka dari itu, ketika wasiat itu sudah terucap, nasihat itu sudah dikuatkan, bahkan ini pesan sebelum Rasulullah wafat, berarti, Rasulullah dengan kelebihannya, sudah mengetahui, bencana apa yang akan menimpa suatu negeri jika rakyatnya tidak patuh atas pemimpinnya SUKA ATAU TIDAK SUKA.

Ini hanya pengingat, ketika pemerintah menyuruh untuk diam dirumah selama masa pandemi ini, lakukan. Saya faham, ada banyak variasi situasi tetapi jika itu adalah hal termudah yang bisa kita lakukan, maka lakukan. Jika mungkin tidak suka akan pemerintah, maka lakukan apa yang Rasulmu perintahkan, insyaAllah, ketidaksukaanmu pada pemerintah, akan berganti dengan pahala. Doakan terus para pemimpin kita agar tetap amanah. Karena saya yakin, mereka akan mempertanggungjawabkan semuanya kelak disana. Doakan, dengan doa yang terbaik.

Semoga semua kebaikan tercurah pada kita semua.

Salam hangat,

Syahdian Sofwan.

Posted in Bahan Refleksi Diri

Ketika Sudah Kehilangan

Bismillahirrahmaanirrahiim

Dari judul saja sudah menyedihkan. Ah belum tentu kok. Sudah pernah dengar, bahwa dunia itu berputar? Memang ini hanya menghibur diri.

Ketika sedih melanda, boleh jika ingin menangis, menderu bahkan menyalahkan diri sendiri. Yang tidak boleh, menyalahkan Allah atas takdirnya. Karena apa? Kita siapa dimata Allah hingga berhak menyalahkan? Karena kita tak tau diri kalo sampai begitu.

Kita harus keras pada diri kita tentang ini, karena orang lain, tak sampai hati bila harus mengatakan ini didepan mata kita. Saya pun marah ketika saya sedang dirundung kesedihan, kemudian niatnya berbagi kepada seseorang, tetapi orang itu kurang bisa menjadi konselor, maka alih-alih meredakan, malah membuka pintu untuk menyalahkan takdir. Astaghfirullah.

Maka dari itu saya sampai membuat video disini agar setidaknya kita tau bagaimana menjadi konselor yang efektif (subscribe ya hehe): https://www.youtube.com/watch?v=nKPzoUhy9KM

Back to the topic about the lost. Kita bersedih ketika kehilangan seseorang, itu menandakan orang itu sangat berharga bagi hidup kita. Mengukur rasa sakit seseorang adalah hal yang mustahil, tetapi kita bisa mengurangi rasa sakit mereka dengan semudah membiarkan. Self-healing adalah metode terampuh ketika seseorang baru saja dilanda kesedihan. Kita tetap harus memperhatikan orang yang dirundung kesedihan itu agar tetap makan, minum dan tidak sampai aral, lalu melakukan hal-hal yang disenangi syaithan. Bunuh diri.

Kehilangan, adalah kata-kata yang dibayangkan saja sudah bisa membuat air mata ini deras turunnya, apalagi ketika benar-benar terjadi.

Saya pernah kehilangan seseorang yang sudah hampir 3 tahun saya nantikan, darah daging saya. Rasanya sedih sekali, tetapi bila kita ingat, bahwa anak itu kelak menjadi anak syurga, setidaknya sudah saya titipkan ditempat terbaik. Sedih? Oh sangat. Tetapi anak itu sedang memperhatikan saya dari sana, disamping Tuhannya. Dia sedang melihat bagaimana ibunya bisa membuatnya bangga meski tanpa harus bertemu, bagaimana ibunya, berjibaku dengan kegiatan menjadi wanita karir yang dirangkap dengan menjadi ibu rumah tangga. Dia akan kecewa bila ibunya tidak berkhidmat pada ayahnya. Dia bisa saja menangis jika ibunya lupa mendoakannya. Dia bisa lebih bersedih, jika ibunya tidak berbuat sesuatu untuk memutus rangkai kesedihannya. Anakku, ingin aku bersikap tegar meski sudah kehilangan.

Rasulullah SAW bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya janin yang keguguran akan membawa ibunya ke dalam surga dengan bersama ari-arinya apabila ibunya mengharap pahala dari Allah (dengan musibah tersebut).” (HR. Ibnu Majah)

Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan, “Dikatakan kepada anak yang mati ini, Masuklah ke dalam surga’. Kemudian si anak mengatakan, Tidak, sampai orang tuaku masuk surga’. Kemudian disampaikan kepadanya, ‘Masuklah kalian ke dalam surga bersama orang tua kalian’.” (HR. An Nasa’i)

Berita-berita duka pun hinggap, seorang penyanyi wanita yang ditinggal suaminya, sedang mereka adalah pasangan yang harmonis. Saya ikut sedih. Lalu kemarin, teman sekelas saya yang meninggal meninggalkan istrinya, yang juga teman saya, membuat saya tambah sedih. Saya sangat berempati pada mereka berdua. Bagaimana tidak, sebenci apa pun kita terhadap suami, ia adalah sosok penjaga kita. Pernah saya iseng, saya tau iseng saya aneh hehe, saya membayangkan jika berita buruk itu datang, atau esok pagi suami saya tidak bangun lagi, aaaahhh tuh sudah merembes air mata ini.

Ketika kehilangan anak sudah membuatku sedih, aku menyadari, bahwa yang masih hidup lebih berhak untuk diperjuangkan. Masih ada suami yang perlu aku bahagiakan, dan dengan berkhidmat padanya, kami bertiga kelak bisa akan berjumpa. Namun ketika suami sudah tidak ada di dunia ini, maka masih ada diri sendiri yang masih harus berjuang, mengumpulkan pundi-pundi pahala yang tersisa.

Kesimpulannya, kehilangan orang lain itu sangat menyedihkan, tetapi kita jangan sampai kehilangan diri kita sendiri.

Allah Ta’ala berfirman (ـ(لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا) (“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita“. QS At Taubah:40)

Salam,

Syahdian Sofwan.

Posted in Bahan Refleksi Diri

Tentang Mimpi Saat Masa Gadisku

Bismillahirrahmanirrahiim

Saya percaya menulis itu menyembuhkan.

Kali ini saya akan memberikan kalimat afirmasi bagi kita semua yang merasa sudah melakukan yang terbaik, namun belum kunjung di hargai. Untuk yang bermimpi tinggi tetapi keburu dinikahi, dan untuk yang mencintai ambisi, tetapi belum sempat terealisasi.

Masih tentang menjad seorang istri, sebelum menjadi istri seseorang, kita menjadi gadis, menjalani kehidupan mandiri, menjalani mimpi dan keinginan pribadi, bertemu banyak sosok yang menginspirasi, dan selalu senantiasa memperbaiki diri. Saya sadar betul kita adalah dulunya seorang anak perempuan yang tak jarang Allah hadiahkan dengan banyak latar keluarga. Ada yang tidak berharap banyak dari kita, karena wanita sepatutnya berkutat di dapur, sumur dan kasur di rumah. Ada juga keluarga yang ambisius yang mengharuskan kita belajar dengan giat, sehingga kita bisa menjadi “sesuatu” nantinya untuk merubah nasib keluarga. Benul? Benar apa betul?

Terlepas apa tuntutannya, dan batasannya, mejadi wanita itu bukan berarti untuk menjadi lemah dan hanya berpasrah, kita boleh kok bermimpi, kita memiliki hak yang sama dengan lelaki hanya ditambah sedikit lebih banyak aturan main. Kalimat ini untuk memotivasi kita agar hak kita tergunakan dengan sebaik-baiknya.

“Kamu adalah wanita yang sangat kuat. Kamu telah melalui banyak hal yang sulit, yang belum tentu orang lain siap menanggungnya. Kamu berani bangkit dari keterpurukanmu, demi berkorban untuk ayah ibumu. Kamu ingin buktikan pada mereka bahwa rasa sayang dan terima kasihmu tidak akan pernah cukup untuk membalas kebaikan mereka. Kamu tidak mudah menyerah. Kamu hanya kadang lelah. Semoga itu jadi lillah.”

“Dulu, kau ingin sekali sekolah yang lebih tinggi, kau ingin menjadi seseorang yang berguna dengan pekerjaan yang dihargai orang banyak, kau ingin banyak berkiprah, kau ingin bahagia dengan caramu sendiri. dan kau ingin mandiri. Kau sudah ditahap itu. Jangan meyerah begitu, kamu tau tidak, kamu lebih kuat dari itu sekarang? Gadisku dulu, berkutat dengan keinginan egoisku semata, tapi sekarangku, berkaitan dengan kelangsungan sebuah peradaban dunia. Lebay? Coba pikir ulang, apakah tanpamu, akan ada anak yang dilahirkan, lalu dididik agama? Apa akan ada yang jadi ulama yang menyiarkan agama Allah? Apa akan ada guru yang berkualitas dan berbudi perkerti luhur yang kita munculkan? Apa akan ada wanita sholehah lain yang akan menurunkan ketabahan dan ketegaran kita? Ingat kata-kata al-ummu madrosatul ula?”

“Jangan berkecil hati bila mimpi kita tidak tercapai, berarti ada mimpi lain yang harus kita tempuh. Ada mimpi lain yang harus disatukan dengan suami, demi menyejahterakan umat. Ada mimpi yang lebih baik dimata Allah ketimbang dimata kita.”

Salam hormat

Syahdian

Posted in Bahan Refleksi Diri

Menjalani Takdir: Calon Istri dan Calon Ibu

Bismillahirrahmaanirrahiim

Setiap wanita yang terlahir kemudian tumbuh menjadi dewasa, akan menjalani takdir sebagai seorang istri, kemudian seorang ibu. Keduanya, membutuhkan penyatuan takdir dari dua manusia. Meminta jodoh, dan meminta anak, adalah dua babak lain kehidupan. Mari kita jabarkan.

Meminta jodoh, adalah meminta menyatukan takdir manusia lain untuk kita jalani. Sedang ia pun harus menjalani takdirnya sendiri. Ia akan membutuhkan waktu untuk settle down (mengurus) semuanya. Laki-laki yang ideal, akan mempersiapkan dirinya untuk menuju perkawinan. Baik ia mempersiapkan ilmu, harta juga mental untuk itu. Ia harus bersiap-siap menjadi nakhoda utama untuk seorang gadis yang ia nikahi. Semua tanggung jawab akan tertumpu padanya, maka ia harus mempersiapkan mental untuk ini. Seorang laki-laki harus mumpuni untuk mengetahui hak dan kewajiban suami, dan istri, dan mengetahui cara terbaik menjadikan bahtera rumah tangganya sakinah mawaddah warrahmah. Harta juga tak kalah penting. Setidaknya lelaki harus tau ia akan bekerja apa atau bagaimana akan menafkahi lahir istrinya. Menyatukan takdirnya dan takdir seorang wanita, berarti bisa jadi akan merubah keseluruhan plot hidup yang sudah direncanakan sebelumnya. Karena seringnya itu jauh dari rencana, rencana Allah selalu banyak kejutannya,

Pun analog dengan meminta anak. Kita secara langsung meminta satu/lebih nyawa yang dititipkan melalui kita. Anak itu kelak akan berbagi takdir dengan ibu dan ayahnya. Anak itu akan mencerminkan seberhasil apa ayah dan ibunya menjaga titipan dan amanah Allah. Anak, bisa menjadi sumber pahala, bisa juga menjadi sumber dosa. Bagi yang belum dikaruniai anak, kehadiran anak akan terasa seperti hadiah. Tetapi bagi yang sudah memiliki cukup anak, tetapi qadarullah berkekurangan dalam harta, kehadiran anak, tidak dinafikkan akan menambah beban hidup bagi keluarga itu. Keduanya, perlu diingatkan, bahwa Allah tidak pernah akan membebani hambanya lebih dari apa yang ia sanggupi.

“Sikapi semua sesuai takdirnya. Biarkan Allah mengurus kita dengan urusan terbaik, dan sandarkan semua pada kehendak Allah. Kita bukan siapa-siapa yang berhak memaksa Allah. Saya perlu disadarkan. Saya perlu diingatkan. Dan saya perlu didoakan”

Itu yang saya ingin katakan untuk diri saya sendiri ketika kesombongan menghampiri. Ketika rasa ingin menyalahkan Allah hendak menghampiri. Dan ketika iman kita terhadap takdir sedang diuji.

Selamat berjuan.

Salam hormat,

Syahdian Sofwan

Posted in Bahan Refleksi Diri

Tentang Berbakti dan Khidmat pada Suami

Source: Google Image

Bismillahirrahmaanirrahiim

Menjadi wanita, dan menjalani fitrah sebagai wanita adalah luar biasa nikmatnya. Banjir pahala dan banyak jaminan syurganya. Hal itu tentu bagi yang tau, bagaimana aturan mainnya. Saya rasa manusia memang perlu pengaturan. Dan bergama, menjembatani itu. Dan beruntungnya saya, dalam islam, bukan hanya dijembatani, tetapi dibimbing dalam detail apapun kehidupan kita.

Saya alhamdulillah sudah menikah. Kesannya bagaimana? Hmm, menikah itu bukan perkara romansa saja, tetapi memang, beratnya menikah, itu ibadah seumur hidup. Sholat wajib bisa selesai dalam kurun waktu 5-30 menit tergantung orangnya. Puasa Ramadhan, sebulan saja waktunya. Tetapi menikah, ya sampai ajal menjemput selesainya.

Kalo seseorang ingin menikah karena ingin bahagia, coba pikir ulang, dan siap-siap kecewa. Tetapi kalo keinginan menikah karena ikhlas ingin ibadah dan berbakti pada suami, maka siap-siap, berjuta rasanya. Sedih, kecewa, putus asa akan selalu ada, cepat atau lama hilangnya, tergantung iman kita. Saya bukan berbicara mejadi yang paling ahli dalam pernikahan. Baru akan menginjak 3 tahun saya menjadi istri, belum berkesempatan menjadi ibu (boleh bantu doa ya), dengan amanah pekerjaan yang juga masyaAllah banyaknya, saya ingin berbagi disini, betapa beratnya nikmatnya berbakti pada suami.

Ia bukan orang tuamu, bukan juga guru sekolahmu, bukan yang mengenalmu dari kecil, ia orang lain. Orang lain yang memberanikan diri, berjanji menjagamu, berjanji akan menjauhkanmu dari dosa, dan luar biasanya, ia orang lain yang akan bertanggung jawab dengan dosamu. Tidak terpikirkah oleh kita betapa dahsyatnya beban jika kita harus bertanggung jawab atas dosa orang lain?

Belum cukup kita berbakti pada orang tua, seorang wanita kini harus mendahulukan berbakti pada suami. Sampai-sampai surganya wanita, ada pada ketaatannya pada suaminya. MasyaAllah. Dan tiket ke syurga, dibeli oleh apa saudara? Oleh air mata, pengharapan, doa, ikhlas, tawakkal, sabar, qanaah dan masih banyak lagi. Sampai sini, yang setuju mana suaranya????

Saya tidak ada maksud merendahkan kaum wanita, tapi saya mengakui, memang derajat laki-laki lebih tinggi dari wanita. Tetapi derajat wanita yang menjaga fitrahnya itu pun tinggi. Kita hanya harus menyadari, ada seseorang yang bertanggung jawab atas kita, itu saja sudah sangat harus dimaklumi dan diwajarkan bila Allah melebihkan suami.

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خُمُسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَت

Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” HR. Ibnu Hibban 9/471 no.4163 dan ath-Thabrani 5/34 no.4598 dan yang lainnya; dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Adab az-Zafaf 286

Berkhidmat pada suami, lebih harus didahulukan dari semua pekerjaan apapun. Biar saya uraikan.

Berkhidmat itu, ada pada setiap lauk yang kita masak dan siapkan untuk suami kita. Berkhidmat itu, ada pada setiap ruangan bersih yang kita sapu dan pel-kan demi ia nyaman disana. Berkhidmat itu, ada pada wangi diri dan penampilan menarik yang membuatnya semakin mencintai kita. Berkhidmat itu, ada pada sikap lembut dan santun dari tiap tutur kata kita kepadanya. Berkhidmat itu, ada pada tiap alarm 30 menit sebelum subuh, untuk mengingatkannya meraih kemulian dalam tahajud. Berkhidmat itu, ada pada lantunan ayat quran yang kita baca tiap hari agar malaikat semakin memberkahi rumah yang kita tempati. Berkhidmat itu, mendahulukan suami dari orang tua, pekerjaan, teman apalagi hobi pribadi. Berkhidmat itu….. sila lanjutkan sendiri.

Wahai saudara perempuanku, saya merasa masih perlu belajar banyak dari tulisan saya sendiri. Saya senang menulis karena saya bisa menampar mengingatkan diri saya sendiri ketika saya lupa. Dan saya senang berbagi agar ini bisa jadi pengingat bagi kita semua. Semoga kita bisa bersilaturrahmi di Syurga. Aamiin yra.

Salam hangat,

Syahdian Sofwan.

Wassalam

Posted in About SiRi (Sidik Jari

Sidik Jari dalam Al-Quran

Bismillahirrahmaanirrahim,

Berawal dari kehausan akan mencari jati diri, belum rampung mencari, ditengah jalan, saya dipertemukan dengan kesempatan belajar tentang sidik jari yang bisa mengungkap kepribadian dasar manusia. Dan masyaAllah, sidik jari pun bahkan ada dalam al-Qur’an, simak dulu video dibawah.

Kita bisa perhatikan, diujung jari-jari tangan kita ada banyak lengkungan kulit yang ada dalam berbagai bentuk lengkungan. Dari lengkungan itulah ada pola unik yang setiap orang pasti akan berbeda,disebut juga parennial nature. Pun tidak akan berubah sampai menua, disebut juga immutability. Begitu spesifiknya sidik jari sehingga bahkan kembar sedikit pun tidak akan sama sidik jarinya, individuality. Harun Yahya bahkan menyebut sidik jari adalah bar code nya manusia.

Lalu bagaimana signifikansinya dengan karakter? Apakah ini ramalan? Sesungguhnya tidak. Ilmu sidik jari ini pada dasarnya adalah penggabungan antara ilmu statistik dan ilmu pengambilan kesimpulan (deduksi). Mengapa ilmu statistik, karena sudah dilakukan banyak pemetaan yang menggabungkan antara jenis sidik jari tertentu dan pemunculan karakter seseorang. Dan begitulah sidik jari ini tercetus, dan kita bisa mengambil hikmah dari terjelaskannya bagaimana aslinya karakter diri kita, sehingga kita bisa menjadikan itu pedoman untuk mengurangi kemungkinan kita salah dalam bersikap pada orang lain, sehingga bisa memperbaiki sikap hablum-minannaas antara kita. Serta, jika kita semakin bisa mentadaburi sikap kita, maka kita bisa semakin bisa mengenal siapa Allah. Begitulah kata-kata mutiara sering dibilang.

Keunikan sidik jari ini ada dalam Al-Quran, QS Al-Qiyamah ayat 3-4, yang terjemahannya:

Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) ujung jari-jarinya dengan sempurna.


Para ilmuwan mengungkap bahwa mumi di Mesir yang diawetkan, sidik
jarinya tetap terlihat jelas dan utuh, dan ini sesuai juga dengan firman Allah dalam surah Al – Mu’minun ayat 81-82 yang artinya:


“Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan
yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala. Mereka berkata: Apakah betul,
apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang,
apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?”

Allah sungguh maha Kuasa atas segala sesuatu. Di kala orang kafir tidak percaya bahwa Allah mampu menyusun kembali tulang belulang, Allah mematahkan pendapat mereka dengan bahkan Allah bukan hanya menyusun tulang belulang mereka saja melainkan juga sampai menyusun kembali ujung-ujung jari mereka secara sempurna. MasyaAllah.

Akan banyak hal yang bisa kita tadaburi jika kita sudah bisa berdamai dengan diri kita sendiri. InsyaAllah, teman-teman bisa mempelajari mengenai sidik jari dan pembahasannya berdasarkan karakter dengan mengunjungi video youtube saya: Syahdian Sofwan.

Disini: https://www.youtube.com/channel/UC9ncbuUHqxr0RgpIhfHyeWA/

Temukan fitrahmu, berdamailah dengan dirimu.

Wallahu ‘alam bisshawab.

Wassalamu’alaykum wr., wb.